hee...he...rada ngaco sakedik...
Tos mulai poek geningan...ah... mumpung teu acan diobat ngaco heula sakedik ah heee...hee.....
Pertemuan merupakan awal dari sebuah cerita dan akan ditutup dengan perpisahan, apakah akan berakhir dengan bahagia atau sebaliknya tergantung pada sejauh mana semua itu dilalui karena itu tidak ada yang abadi kata seorang pujangga. Tentunya semua berkeinginan baik dari awal sampai akhir, namun tidak menutup kemungkinan sebaliknya...bagaimana takdir-Nya saja toh manusia hanya menjalankan apa yang sudah tersurat di tangan-Nya...Dia itu MAha Adil, sekecil apa pun usaha yang kita lakukan pasti akan ada buahnya....kalo kata seorang kawan kehidupan manusia itu ibarat pintu, manusia yakin berbagai kemungkinan dari harapan akan datang dari balik pintu itu. karena mereka bisa melalui kehidupannya, apa pun yang terjadi harus dicoba.
Dalam perjalanan cerita itu berbagai ungkapan perasaan akan kita lalui, senang-susah, berhasil-gagal, senyum-tangis akan terus berputar silih berganti dan satu hal yang akan selalu setia berada disekitar kita yaitu masalah. kita akan banyak menghadapi masalah, seperti kata pepatah makin tinggi sebuah pohon akan makin kencang anginnya. bila pohon itu mempunyai akar yang kuat maka ia akan kokoh, tapi sebaliknya bila tidak ia akan terhempas diluluh lantahkan oleh angin itu. masalah yang ditimpakan pada seseorang akan menempanya menjadi pribadi yang tangguh bila ia bisa melewatinya....menyerah pada masalah itu sebuah pengingkaran pada takdir yang telah digariskan oleh tuhan. dan pada akhirnya perjalanan itu akan ditutup dengan sebuah cerita yang akan terus dituturkan dari satu generasi ke generasi lainnya.
Bila bicara soal cerita, waktu dan manusia jadi inget syair yang ditulis Muhammad Iqbal yang hendak kukutif waktu nulis skripsi dulu tentang Pakistan yang kemudian karena sesuatu hal harus dihapus....
Nyanyian Waktu - Muhammad Iqbal
Aku derita maupun penawar
Kesederhanaan maupun kemegahan.
Aku pedang yang menghancurkan
Aku mata air kekekalan
Aku api yang membinasakan
Aku taman kebaqaan
Pertentanganku nyata
(Anggaplah itu tipu-muslihat):
Berubah selalu, diam senantiasa
Tak berubah dalam dada yang berubah.
Seperti jiwa manusia aku tak terikat
Pada lambang-lambang bilangan-
Aku tak terikat pada masa dan keluasan
Pada pergantian dan tahun kabisat
Kau adalah rahasia terpendam dalam dirimu
Aku adalah rahasia dari wujudmu.
Aku hidup karena kau memiliki jiwa
Dan tempat tinggalku adalah kesendirian jiwamu
tos ah...bilih makin ngaco heee..he.....
Pertemuan merupakan awal dari sebuah cerita dan akan ditutup dengan perpisahan, apakah akan berakhir dengan bahagia atau sebaliknya tergantung pada sejauh mana semua itu dilalui karena itu tidak ada yang abadi kata seorang pujangga. Tentunya semua berkeinginan baik dari awal sampai akhir, namun tidak menutup kemungkinan sebaliknya...bagaimana takdir-Nya saja toh manusia hanya menjalankan apa yang sudah tersurat di tangan-Nya...Dia itu MAha Adil, sekecil apa pun usaha yang kita lakukan pasti akan ada buahnya....kalo kata seorang kawan kehidupan manusia itu ibarat pintu, manusia yakin berbagai kemungkinan dari harapan akan datang dari balik pintu itu. karena mereka bisa melalui kehidupannya, apa pun yang terjadi harus dicoba.
Dalam perjalanan cerita itu berbagai ungkapan perasaan akan kita lalui, senang-susah, berhasil-gagal, senyum-tangis akan terus berputar silih berganti dan satu hal yang akan selalu setia berada disekitar kita yaitu masalah. kita akan banyak menghadapi masalah, seperti kata pepatah makin tinggi sebuah pohon akan makin kencang anginnya. bila pohon itu mempunyai akar yang kuat maka ia akan kokoh, tapi sebaliknya bila tidak ia akan terhempas diluluh lantahkan oleh angin itu. masalah yang ditimpakan pada seseorang akan menempanya menjadi pribadi yang tangguh bila ia bisa melewatinya....menyerah pada masalah itu sebuah pengingkaran pada takdir yang telah digariskan oleh tuhan. dan pada akhirnya perjalanan itu akan ditutup dengan sebuah cerita yang akan terus dituturkan dari satu generasi ke generasi lainnya.
Bila bicara soal cerita, waktu dan manusia jadi inget syair yang ditulis Muhammad Iqbal yang hendak kukutif waktu nulis skripsi dulu tentang Pakistan yang kemudian karena sesuatu hal harus dihapus....
Nyanyian Waktu - Muhammad Iqbal
Aku derita maupun penawar
Kesederhanaan maupun kemegahan.
Aku pedang yang menghancurkan
Aku mata air kekekalan
Aku api yang membinasakan
Aku taman kebaqaan
Pertentanganku nyata
(Anggaplah itu tipu-muslihat):
Berubah selalu, diam senantiasa
Tak berubah dalam dada yang berubah.
Seperti jiwa manusia aku tak terikat
Pada lambang-lambang bilangan-
Aku tak terikat pada masa dan keluasan
Pada pergantian dan tahun kabisat
Kau adalah rahasia terpendam dalam dirimu
Aku adalah rahasia dari wujudmu.
Aku hidup karena kau memiliki jiwa
Dan tempat tinggalku adalah kesendirian jiwamu
tos ah...bilih makin ngaco heee..he.....
Komentar