kala Tuhan Menegur Darwis....
Faridu'd-Din Attar dalam karyanya yang berjudul Musyawarah Burung (Mantiqu't-Thair) banyak memberi pelajaran bagi kita yang memahami dan merenungkannya. walaupun kisah ini ditulis delapan abad yang lalu namun rasanya masih sangat relevan dengan suasana kekinian kalau kita membacanya dengan pemahaman secara mendalam. diantara sekian banyak kisah yang diutarakan, ada yang menarik perhatian ku salah satunya dalih burung ketujuh, pada kisah Tuhan Menegur Seorang Darwis. rasanya kisah ini membuat kita tersadarkan bahwa Tuhan itu Sangatlah "Pencemburu" dan tentang ibadah yang kita lakukan setulus apa, masihkah kita tergoda dengan hal yang fana. begini kisahnya yang kukutifkan dari buku Musyawarah Burung terjemahan Hartojo Andangdjaja Judul asli: Mantiqu't-Thair oleh Faridu'd-Din Attar Diterjemahkan dari The Conference of the Birds (C. S. Nott). Diterbitkan oleh PT DUNIA PUSTAKA JAYA
Tuhan Menegur Seorang Darwis
Seorang suci yang telah menemukan ketenteraman dalam Tuhan menyerahkan seluruh dirinya dalam sembah dan puja selama empat puluh tahun. Ia telah melarikan diri dari dunia ini, tetapi karena Tuhan begitu mesra menyatu padanya, orang itu pun merasa puas. Darwis ini telah memagari sebidang tanah di gurun; di tengah-tengahnya ada sebatang pohon, dan di pohon itu seekor burung telah membuat sarangnya. Nyanyian burung itu merdu terdengar, karena setiap nadanya mengandung seratus rahasia. Hamba Tuhan itu terpesona. Tetapi Tuhan menyampaikan pada seorang arif tentang ihwal peristiwa itu dengan kata-kata ini, "Katakan pada sufi itu bahwa aku heran setelah berkhusyuk selama bertahun-tahun, ia telah berhenti dengan menjual aku seharga seekor burung. Memang benar burung itu mengagumkan, tetapi nyanyiannya telah menjerat sufi itu dalam sebuah perangkap. Aku telah membeli dia dan dia telah menjual aku."
Tuhan Menegur Seorang Darwis
Seorang suci yang telah menemukan ketenteraman dalam Tuhan menyerahkan seluruh dirinya dalam sembah dan puja selama empat puluh tahun. Ia telah melarikan diri dari dunia ini, tetapi karena Tuhan begitu mesra menyatu padanya, orang itu pun merasa puas. Darwis ini telah memagari sebidang tanah di gurun; di tengah-tengahnya ada sebatang pohon, dan di pohon itu seekor burung telah membuat sarangnya. Nyanyian burung itu merdu terdengar, karena setiap nadanya mengandung seratus rahasia. Hamba Tuhan itu terpesona. Tetapi Tuhan menyampaikan pada seorang arif tentang ihwal peristiwa itu dengan kata-kata ini, "Katakan pada sufi itu bahwa aku heran setelah berkhusyuk selama bertahun-tahun, ia telah berhenti dengan menjual aku seharga seekor burung. Memang benar burung itu mengagumkan, tetapi nyanyiannya telah menjerat sufi itu dalam sebuah perangkap. Aku telah membeli dia dan dia telah menjual aku."
Komentar