Sebuah kado Dari sahabat...
Mengenang masa lalu mengejar gemerlap kemewahan
apa daya di luar gerbang di menara ujung,
duka dendam sambung-menyambung
di ketinggian menerawang seribu zaman
sarjana mendesah panjang untuk kejayaan kehinaan
hanya dingin kabut melapukkan rumput
Tidakkah kau lihat luapan sungai dari angkasa,
mengalir menderu ke lautan tak pernah kembali?
Tidakkah kau lihat di bening cermin lelaki meratapi rambutnya,
hitam di pagi hari memutih di waktu senja?
Bergembiralah di kala jaya,
jangan membiarkan cawan emas menatap purnama.
Bakat anugerah langit pasti ada gunanya,
seribu emas di sebar diraih kembali.
Terang bulan di depan pembaringan,
laksana embun beku dipelataran.
Menengadah menatap bulan purnama,
teringat masa lalu.
Andai niat hati tak tercapai sekarang,
esok pun pagi kan jadi awal yang baru.
apa daya di luar gerbang di menara ujung,
duka dendam sambung-menyambung
di ketinggian menerawang seribu zaman
sarjana mendesah panjang untuk kejayaan kehinaan
hanya dingin kabut melapukkan rumput
Tidakkah kau lihat luapan sungai dari angkasa,
mengalir menderu ke lautan tak pernah kembali?
Tidakkah kau lihat di bening cermin lelaki meratapi rambutnya,
hitam di pagi hari memutih di waktu senja?
Bergembiralah di kala jaya,
jangan membiarkan cawan emas menatap purnama.
Bakat anugerah langit pasti ada gunanya,
seribu emas di sebar diraih kembali.
Terang bulan di depan pembaringan,
laksana embun beku dipelataran.
Menengadah menatap bulan purnama,
teringat masa lalu.
Andai niat hati tak tercapai sekarang,
esok pun pagi kan jadi awal yang baru.
Komentar